Selasa, 05 Februari 2013

( KISAH ) DUA SUPIR TAKSI


Saya mendekati taksi biru itu. Sebenarnya saya ragu, karena Kramat Raya bukan jarak yang jauh dari Cempaka Emas, tempat saya berdiri sekarang ini. Paling 10-15 menit sudah sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak sebanding dengan lamanya sopir taksi tersebut mangkal di tempat ini. Oleh karenanya, saya sudah bersiap untuk tidak kecewa. Saya buka pintu belakang taksi itu. "Kramat Raya, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, Pak!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun. Tentu saja saya gembira, karena tidak menyangka lelaki itu bakal mau mengantar.

Saya segera naik ke jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian berputar 180 derajat di perempatan Cempaka Putih. Sekarang melaju ke arah Senen.

"Kok Bapak mau ke Kramat? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya memancing. 

"Kita kan tidak pernah tahu ada apa di balik yang dekat itu, Pak," katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."

Berkata bijak ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari mulut Firmansyah, begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang sopir taksi bersahaja yang saya temui pagi ini.

Maka meluncurlah cerita "filosof" yang sopir taksi itu. 

"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."

Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata melayang jatuh.

"Tetapi, tak jarang," imbuh lelaki itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali. Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak membawa penumpang sama sekali."

Ia tersenyum di tengah klakson jembatan layang menuju Kemayoran. 

Saya mengangguk-angguk.

"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tahu, setelah itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."

***

Beberapa hari berikutnya, saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang sama. Kali ini Bluebird, langganan saya. 

"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?" tanya saya memancing. Taksi sedang melaju ke arah Senen. Saya mencomot roti sarapan pagi dengan sekotak minuman dingin.

Ia tertawa. 

"Jangankan Kramat Raya, Pak," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Cempaka Emas ke Ruko Cempaka Emas!"

"O, ya?" sergah saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing atau sebidikan panah. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari angka awal lima ribu perak, dong?"

"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."

Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.

"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya
menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."

"Wah, susah juga, ya Pak?" timpal saya. Sudah dapat yang sangat dekat, kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih dulu.

"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan tujuan Patra Jasa. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu mobil saya. Cikarang, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Patra Jasa."

Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."

"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."

Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard, menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.

***

Saya banyak belajar dari kedua orang itu, Pak Firmansyah dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama halnya tidak menghargai Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar. 

Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu, ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik; begitu satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak.

Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, sumarah. Pasrah, tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah pengejawantahan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang salah-kaprah; yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin. 

Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua lelaki di atas, dalam pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka demikian. 

Boleh jadi keduanya tidak hapal dengan ayat Al-Qur'an tentang rezeki yang min haitsu laa yahtasib. Tetapi saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua sopir di atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita sendiri barangkali masih berkutat pada tataran teori. 

Jika Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua sopir taksi di atas. Benar juga sebuah tulisan yang say a baca terpampang di sebuah Sekolah Merdeka di tepi Ranu Klakah Lumajang, dan selalu terpatri dalam ingatan saya hingga kini: jika semua tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru. Dan Pak Firmansyah serta Pak Endang, adalah guru saya hari ini. Wa Allahu a'lamu bi ash-shawab.   (Bahtiar HS)

( RAHASIA ) DOA FAKIR MISKIN SBG KEKUATAN ORANG KAYA, DAN KEJAYAAN UMAT

Rosulullah saw bersabda : Barangkali orang yang rambutnya semrawut dan bajunya berdebu, serta selalu ditolak jika bertamu, jika ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya ( HR Muslim )
Maksudnya adalah orang yang miskin yang tidak punya minyak rambut untuk merapikan rambutnya dan tidak punya baju banyak, sehingga kelihatannya lusuh serta tidak punya jabatan, sehingga sering diremehkan orang.

Tetapi orang miskin dan lemah ini tetap istiqomah dengan ajaran Islam, maka jika ia bersumpah kepada Allah, niscaya Alah akan mengabulkannya. Karena walaupun dia kelihatan hina di mata manusia, tetapi dia adalah makhluk Allah yang sangat mulia di sisi-Nya sehingga dipenuhi permintaannya.

Rosulullah saw bersabda : Saya pernah berdiri di pintu syurga, ternyata yang saya lihat bahwa kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan (yaitu belum diperkenankan masuk syurga dahulu) ( HR Bukhari dan Muslim )

Hadist di atas mengisyaratkan bahwa orang-orang yang lemah dan miskin, biasanya lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah swt daripada orang kaya, walaupun tidak secara mutlak.

Orang kaya gimana ?

Ya banyak juga yang masuk syurga cuma kalah jauh dengan jumlah fakir miskin, atau masih ketahan karena hartanya dihisab dulu.

Orang-orang yang lemah dan miskin , biasanya merasakan dirinya lemah dan memerlukan bantuan, sehingga selalu berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa. Sebaliknya orang-orang yang kuat dan kaya, biasanya terlena dengan kekuatan dan kekayaannya.

Kebanyakan orang kaya dia merasa tidak membutuhkan lagi pertolongan orang lain, sehingga lupa kepada Allah. Dia merasa tidak perlu berdoa, karena semuanya sudah serba kecukupan. Akhirnya dia semakin jauh dengan Allah

Kalangan Nabi-Nabi kebanyakan orang lemah dalam artian gak sebanding dengan Firaun, Abu Jahal, Kerajaan Romawi, Babilon Raja Namrudz, bukan ?
Dan akhirnya Allah SWT menolong mereka yang paling murni dan bersih pengharapannya, paling banyak mengeluh hanya kepada-Nya.

Orang-oang yang lemah dan miskin biasanya lebih cepat menerima kebenaran. Sebaliknya orang-orang yang kuat dan kaya biasanya menjadi penghalang dakwah dan menolak kebenaran. Allah SWT berfirman :

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negri seorang pemberi peringatanpun ,melainkan orang-orang yang hidup mewah dinegri itu berkata Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya. Dan mereka berkata : Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak ( dari pada kamu ) dan kami sekali-laki tidak akan di adzab (QS as Saba : 34-35)

Bagaimana kalau kita sebaiknya kaya atau Miskin ?

Menjadi kaya itu wajib, dan itu adalah amanah demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan demi meraih doanya orang Miskin yang harus dibantu, dan dibimbing.

Jika ditakdirkan miskin, percayalah gak akan selalu miskin bila mau mengkaji jalan-Jalan Islam demi meraih rizki yang halal. Semua solusinya selalu ada, hanya saja mereka yang miskin lebih mudah bersih hati dan tidak menghitung-hitung pengeluarannya. Bisa jadi miskin uang, namun keluarganya sakinah, kebutuhan ekonominya cukup dengan berkebun, bertani dsb seperti mereka yang hidup didaerah-daerah.

Pengajian Dhuafa, mereka lebih rajin hadirnya, lebih fokus, lebih khusyu cepat menghafal Doa, karena mereka tidak disibukkan dengan keduniaan yang berlebihan apalagi dikota besar. Pengajian Dhuafa sengaja dipedalaman agar lebih murni, dari hati dsb.

Orang Miskin itu lebih mulia dari orang kaya ? Gak selalu. Ada juga orang miskin yang cinta dunia.

Kok bisa? Ya bisa kalau dirinya selalu menghalalkan segala cara meraih rizki, selalu menghayal dan mengeluhkan nasibnya.

Orang- orang lemah dan miskin adalah salah satu sumber kekuatan Islam. Rosulullah saw bersabda : Sesungguhnya kamu diberi kemenangan dan dilimpahkan rizqi karena adanya orang-orang lemah diantara kalian ( Hr Bukhari , Tirmidzi dan Abu Daud )

Berkata Al Manawi : Maksud hadist d atas adalah bahwa salah satu unsur kemenangan kaum msulimin adalah dengan doa orang-orang yang fakir miskin,karena hati mereka biasanya lembut dan peka ( inkisar ) , sehingga lebih memungkinkan untuk di kabulkan

Di dalam Kitab Syarh Sunnah di sebutkan bahwa Rosullah saw meminta kemenagan dengan bantuan orang-orang miskin dari orang-orang Muhajir.

Berkata Al Qori : Alasan disebutkan Muhajirin secara khusus karena mereka mempunyai beberapa sifat :

Mereka orang fakir miskin
Mereka orang yang asing ( musafir )
Mereka di dholimi ( karena di usir dari kampung halamannya )
Mereka orang yang berijthad
Mereka orang-orang mujahid yang berperang di jalan Allah

Sehingga doa mereka tentunya lebih mustajab dibanding dengan yang lainnya yang tidak mempunyai sifat- sifat di atas.

Di dalam Kitab Sunan Nasai disebutkan bahwa Rosulullah saw bersabda : Hanyasanya Allah Menolong umat ini karena ada orang-orang yang lemah di dalamnya , yaitu karena doa sholat serta keikhlasan mereka.

Berkata Mufasir Imam Ibnu Mundzir : Artinya bahwasanya ibadatnya orang - orang yang lemah dan doa mereka biasanya lebih ikhlas, karena hati mereka tidak tergantung kepada keindahan kehidupan dunia ini dan konsentrasi mereka hanya pada satu fokus saja ( yaitu akhirat) sehigga doa mereka mustajab dan amalan mereka bersih. Oleh karenanya, orang-orang beriman di perintahkan untuk bersama mereka, sebagaimana firman Allah di dalam ( Qs Al Kahfi : 28 ) , dalam surat lain Allah berfirman : Adapun terhadap orang yatim , janganlah kamu berlaku sewenang- wenang . Dan terhadap orang yang minta- minta , maka janganlah kamu menghadirknya ( Ad Duha :9-10 )

Muhajirin Mekkah ke Madinah contohnya, mereka paling cepat ditolong Allah SWT meninggalkan semua harta, dan berkah bagi kaum Anshor sbg tuan rumah ketika itu.

Muhajirin meninggalkan harta, keluarga dimekkah demi memenuhi hijrah, di Madinah mereka jadi pembesar yang arif, menegakkan syariat Islam, menanamkan nilai Al Quran disegenap bidang kehidupan hingga mekkah pun bisa bersama dikuasai oleh Umat Islam dibawah Panji kepemimpinan Rosulullah SAW.

Mari berlindung kpd Allah dari negeri yang penuh kezaliman kepada orang miskin karena orang2 kaya yang korupsi.

Mari berlindung kpd Allah dari rakyat jelata yang dipermainkan golongan orang kaya.

Mari berlindung kpd Allah dari perpecahan dimana yang kaya tidak mengayomi rakyat kecil, kepada-Nyalah kita semua berlindung, dan memohon agar Allah SWT membukakan pintu hati kita dan mereka semua. Aamiin


(Ust. Yusuf Mansur)

KARUNIA UNTUK KESEMPURNAAN


Apa yang menjadi jatah rejeki kita, pasti akan sampai kepada kita dengan cara dan jalan yang dikehendaki-Nya. Dan apa yang bukan menjadi jatah rejeki kita, tak akan menyapa kita walapun kita mengejarnya dengan perasan keringat. Dan apa yang bukan jatah rejeki kita, akan berpindah ke tangan orang lain walaupun telah berada di genggaman kita

Rejeki yang telah sampai ke tangan kita, pada hakikatnya merupakan titipan Allah swt. Yang Dia bisa menambah, mengurangi atau mengambilkannya kapan Dia kehendaki. Untuk itu semestinya kita salurkan sesuai dengan aturan dan kehendak-Nya

Ketika Allah SWT meminta pinjaman yang baik sedekah kepada kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolaknya. Terlebih Dia akan mengembangkan harta kita di akherat sana, dengan kelipatan 700 % keuntungan dan bahkan kelipatan yang tak terhitung

Allah SWT Berfirman artinya: 
Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir menumbuhkan seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah: 261)

Tiada sejarahnya, orang yang banyak sedekah lalu ia jatuh miskin. Tiada ceritanya orang yang banyak sedekah, hidupnya dililit masalah dan persoalan hidup. 

Kalaupun ada, jelas itu sebagai ujian dari-Nya, tetapi banyak yang tidak faham karena picik, terlalu memuja duniawi bukan Allahnya, dan ini perlu diketahui bahwa :

Hakikat semua ujian yang pasti untuk menyempurnakan sedekah dan amal kita yg lain. Menyempurnakan ketidak ikhlasan kita, mungkin saja suka menyebut pemberian dan kurang tulusnya dalam sedekahnya atau terlalu banyak berhitung-hitung dulu baru sedekah, komplain ke Allah padahal bagaimana bisa kita sbg hamba-Nya yg lemah ? 

Dan kenalilah hakikat ujian itu berfungsi menutupi kesalahan, yang terluput, terlupa, dan kesemuanya untuk kebaikan kita, sempurnanya amal membuat karakter yang redho. Inilah perlunya sikap menyerahkan urusan sepenuhnya ke Allah SWT bila sudah maksimal berupaya, beramal, dan berdoa, maksimalnye kudu diduluin, unjukin dulu keyakinan dan perbuatan baik ke Allah, karena hanya Allah sajalah yg maha tahu kebaikan untuk kita. Hanya Allah saja, yg paling faham diri kita.

Renungkanlah apakah kita sendiri yang menciptakan anak anak kita? Apakah kita sendiri yang kemudian menyediakan rezeki atas keluarga kalian? Lalu kenapa begitu kikir kepada Allah Rabbul Alamin? Kita kikir kepada Sang Maha Raja Pencipta dan Penguasa terhadap apa apa yang sesungguhnya adalah milikNya yang dipinjamkan Nya kepada kita, sementara kita meyakini dan telah membuktikan bahwa Dia tidak pernah kikir dalam menjamin rezeki dan penghidupan kita. Tidaklah setiap jiwa akan menemui kematian hingga tergenapilah seluruh takdir atas hidupnya dan atas kadar rezekinya

‎( AMALAN ) RAHASIA BILANGAN "EMPAT PULUH" DALAM SHALAT BERJAMAAH

Shalat berjama'ah memiliki banyak keutamaan di bandingkan dengan shalat sendirian. Bukan hanya keutamaan yang terpaut antara 25 atau 27 derajat, orang yang melakukan shalat berjama'ah akan mendapatkan ampunan dosa dari setiap langkahnya menuju masjid. Bahkan siapa yang menjaga shalat berjama'ah hingga tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram imam selama 40 hari, maka ia akan mendapat penjagaan Allah dari melakukan kenifakan sehingga di akhirat akan terbebas dari api neraka. Imam al-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

 مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ 

 "Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan." (HR. Tirmidzi, dihasankan di kitab Shahih Al Jami’ II/10894) Di dalam hadits ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan keutamaan dan janji di atas: - Melaksanakan shalat dengan ikhlash untuk Allah. - Shalat tersebut dilaksanakan dengan berjama'ah. - Menjaga jama'ah selama 40 hari (siang dan malamnya). - Mendapatkan takbiratul ihramnya imam secara berturut-turut. Dzahir hadits menunjukkan syarat untuk terus-menerus selama 40 hari, tanpa diselang dengan absen dari jama'ah atau terlambat. Hal tersebut didukung oleh hadits yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, dari Anas bin Malik radliyallah 'anhu:

 مَنْ وَاظَبَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لا تَفُوْتُهُ رَكْعَةٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا بَرَاءَتَيْنِ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ 

 "Siapa yang menekuni (menjaga dengan teratur) shalat-shalat wajib selama 40 malam, tidak pernah tertinggal satu raka'atpun maka Allah akan mencatat untuknya dua kebebasan; yaitu terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan." (HR. Al-Baihaqi, Syu'abul Iman, no. 2746) Kata "Muwadhabah" menuntut dilakukan berturut-turut dan tidak diselang dengan absen dari berjama'ah atau masbuq (terlambat) sehingga tidak mendapatkan takbiratul ihram imam. Kesimpulannya, pahala yang disebutkan dalam hadits hanya bagi orang yang telah melaksanakan shalat berjama'ah selama 40 hari dan mendapatkan takbiratul ihram imam secara terus menerus. Dan diharapkan bagi setiap orang yang berusaha mendapatkan takbiratul ihram imam dalam jama'ah mana saja (di masjid jami' atau di mushala) supaya mendapatkan pahala yang dijanjikan itu dan tidak dikurangi sedikitpun. Tapi, tidak diragukan lagi seseorang mendapatkan pahala sesuai dengan kemampuannya. "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik". ( Makna takbiratul ihram imam ) Ada yang berpendapat, di antaranya Mula al-Qaari dalam al-Mirqah, bahwa maksud mendapatkan takbiratul ihram imam bisa mengandung makna mendapatkan raka'at pertama imam, yaitu sebelum imam ruku'. Yang berarti dia mendapatkan shalat secara lengkap dan sempurna bersama jama'ah yang ditandai dengan mendapatkan rakaat pertama. Namun menurut pengarang Tuhfah al-Ahwadzi, bahwa pemahaman ini jauh dari benar. Yang lebih rajih adalah memahaminya sesuai dengan dzahir nashnya. Hal ini sesuai dengan perkataan Abu Darda' radliyallah 'anhu secara marfu' ke Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

 لِكُلِّ شَيْءٍ أَنْفٌ ، وَإِنَّ أَنْفَ الصَّلَاةِ التَّكْبِيرَةُ الْأُولَى فَحَافِظُوا عَلَيْهَا 

 "Setiap sesuatu memiliki permulaan. Dan permulaan shalat adalah takbir pertama (takbiratul ihram), maka jagalah takbir pertama itu." (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah) Sa'id bin Musayyib pernah berkata, "Aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat (berjama'ah) selama 50 tahun. Aku juga tidak pernah melihat punggung para jama'ah, karena aku berada di barisan terdepan selama 50 tahun." (Hilyah Auliya: 2/163) Dalam keterangan yang lain beliau pernah menyatakan, "Sejak tiga puluh tahun, tidaklah seorang mu'adzin mengumandangkan adzan kecuali aku sudah berada di masjid." Muhammad bin Sama'ah at Tamimi rahimahullah menyatakan selama empat puluh tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihramnya imam, kecuali ketika ibunya meninggal." Orang yang bersemangat untuk mendapatkan takbiratul ihram imam dalam setiap shalat menunjukkan kuatnya agama atau keimanan orang tersebut. Karenanya, hendaknya seorang muslim mendidik dirinya untuk menjaga syiar Islam yang agung ini, memperhatikan dan menjaga shalat berjamaah serta berusaha mendapatkan takbir pertama imam.

(Ust. Yusuf Mansur)

Kamis, 01 November 2012

SEDEKAH PRODUKTIF

Imam Muslim meriwayatkan dari Umar ra, bahwa suatu hari Umar bin Khattab mendatangi Rasululloh SAW, dan dia berkata.” Aku mendapat bagian tanah di Khaibar yang luar biasa produktif. Aku bahkan belum pernah mendapatkan harta yg lebih berharga dari tanah itu. Apa yang sebaiknya kulakukan terhadap tanah tersebut?.”...Rasululloh SAW menjawab, “ Tahan modalnya dan sedekahkan hasilnya,” (HR.Muslim) Dari hadist itu Umar lalu menyedekahkan tanah itu untuk kepentingan kaum dhuafa. Penggarap tanah di persilahkan mengambil sebagian hasil panennya dan sebagian besar lainnya di disedahkan untuk fakir miskin. 1. Apa yang dimaksud dengan SEDEKAH PRODUKTIF SEDEKAH PRODUKTIF adalah program sedekah yang kami khususkan menjadi modal usaha bagi pemberdayaan Ponpes dan Rumah Tahfidz Indonesia. Dari hasil usaha/pengembangan ekonomi diharapkan menjadi operasional Ponpes atau RT tersebut 2. Apa beda dengan Sedekah biasa dengan SEDEKAH PRODUKTIF Sedekah yang biasa Bapak/Ibu tunaikan selama ini ke PPPA DQ adalah langsung kami salurkan untuk program-program PPPA dan operasional lainnya, sedang SEDEKAH PRODUKTIF adalah sedekah yang kami produktifkan/kembangkan ke kegiatan ekonomi/usaha yang hasilnya kami gunakan untuk program-program PPPA lainnya. Sehingga pokok sedekahnya atau modalnya tetap utuh sedang hasilnya dipergunakan untuk kemaslahatan ummat. 3. Apa beda SEDEKAH PRODUKTIF dengan WAKAF Dalam sudut padang penggunaan dana SEDEKAH PRODUKTIF tidak berbeda dengan WAKAF, karena tujuan dari sedekah produktif dan wakaf produktif adalah hasil/laba dari usaha-usaha yang dikembangkan dipergunakan untuk kepentingan ummat seperti pemberian beasiswa, pembangunan pesantren, masjid dan kegiatan sosial lainnya. Baik sedekah produktif dan wakaf produktif pokok dari harta yang disedekahkan tetap ada. Menurur Syekh Wahbah Zuhaili, sedekah dibagi menjadi dua : a. Sedekah wajib yaitu Zakat b. Sedekah sunnah seperti infak dan waqaf 4. Tujuan SEDEKAH PRODUKTIF Sedekah Produktif ini bertujuan untuk Pemberdayaan ekonomi di ponpes-ponpes dan Rumah Tahfidz yang mempunyai potensi usaha, baik pertanian, peternakan atau minimarket. Selain itu modal tersebut kami investasikan di beberapa perusahaan yang sudah berjalan . Hasil usaha atau keuntungan dari usaha tersebut akan kami gunakan untuk membiayai program-program PPPA DQ dan sekaligus menjadi operasional dari ponpes-ponpes dan Rumah Rahfidz yang Menjadi mitra pemberdayaan dengan PPPA DQ . 5. Voucher SEDEKAH PRODUKTIF Voucher SP akan kami kirimkan kepada Bapak/Ibu, apabila Bapak/Ibu telah mentransfer dan mengirimkan bukti transfer serta data diri lengkap kepada kami, baik melalui faks, email maupun sms. Voucer SP tidak berfungsi sebagai alat tukar, discount, maupun lainnya. Voucher ini sebagai alat bukti atau pengganti kwitansi penerimaan sedekah dari Bapak/ibu donatur. Bagi Bapak/Ibu yang berikeinginan menyebarkan voucher SP ini. Dapat bergabung menjadi SIMPUL atau relawan PPPA DQ. Silahkan Bapak/Ibu kirimkan email data diri lengkap ke mypppa@gmail.com, nanti kami kirimkan syarat dan prosedur menjadi SIMPUL PPPA DQ. 6. Bagaimana berpartisipasi SEDEKAH PRODUKTIF Sedekah Produktif bisa dilakukana dengan beberapa cara, sebagai berikut : 1. Bersedekah uang cash (mata uang bebas) 2. Bersedekah dengan Properti & kendaraan, seperti Rumah, kios/toko, kontrakan, motor, mobil, dll 3. Bersedekah Usaha, warnet,wartel, foto copy, rumah makan, dll 4. Bersedekah dari hasil usahanya saja, seperti hasil kontrakan, hasil sewa toko/kios, hasil penjualan pertanian/peternakan dll 5. Bersedekah dengan surat berharga, saham, obligasi dll Untuk sedekah cash Untuk sedekah cash mulai dari Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 20.000, Rp 50.000, Rp 100.000, Rp 500.000. Rp 1.000.000, Rp 5.000.000 dan Rp 10.000.000 bisa transfer ke rek PPPA DQ sebagai berikut : bisa transfers ke rek PPPA DQ sebagai berikut : 1. Bank Syariah Mandiri : 074.006.4000 2. BCA : 6030.751.351 An. Yayasan Daarul Qur’an Nusantara Bukti tranfer SEDEKAH PRODUKTIF beserta data diri donatur lengkap mohon di faks ke 021 73444858 Atau melalui email layanan@pppa.or.id. Untuk bulan berikut dan selanjutnya, konfirmasi sedekah bisa melalui layanan SMS Center PPPA di bawah ini. dg format ketik: Konfirmasi/nama/bank_tujuan/jumlah_transfer/tgl_transfer/no_resi/sedekah produktif Bagi Bapak/Ibu yang ingin bersedekah properti/usaha/surat berharga atau lainnya bisa menghubungi 021 7345 3000 ext. 118
Kami mohon kesediaan Bapak/Ibu untuk menyebarkan informasi program SEDEKAH PRODUKTIF ini kepada keluarga, kerabat, rekan-rekan serta teman-teman di lingkungan rumah dan kantor. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan umur, rizki, dan kemudahan dalam beraktifitas kepada Bapak/Ibu beserta keluarga,...amiin

Kamis, 19 April 2012

Diabetes Hilang Memori Kembali

"Apa sih amalan khusus yang kamu lakukan, sehingga Allah SWT memberikan pertolongan dan perlindungan kepadamu sedemikian rupa?"
Demikian pertanyaan para kerabat yang menjenguk saya, sepulang saya dari Rumah Sakit.
Saya maklum. Bahkan saya sendiri juga heran, karena amal ibadah saya biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa pada diri saya. Tapi alhamdulillah, di luar dugaan sebuah kecelakaan dahsyat ternyata tidak sampai berakibat fatal pada diri saya. Bahkan, diabetes saya sembuh setelahnya.
Ceritanya begini. Saya ini seorang staf penjualan di sebuah perusahaan asing di Surabaya. Rumah saya di Malang. Jadi, setiap hari kerja saya pergi-pulang rute Malang-Surabaya.
Pada 10 Desember 2010, usai shalat Jum’at saya mengemudi mobil dari Surabaya menuju Malang. Sore itu saya ada janji dengan salah satu customer di Kota Apel. Rencana saya, setelah menemui customer itu, bisa langsung pulang.
Kira-kira pukul 15.30 WIB saya sampai di Purwosari, sejarak 15 km sebelum kota Malang. Spot ini dikenal sebagai jalur rawan kecelakaan.
Sampai di sebuah putaran balik, tiba-tiba sebuah truk dari arah Malang nyelonong menghajar mobil saya. Braaakkk! Tabrakan “adu kebo” tak terhindarkan.
Belakangan saya baru tahu, truk itu remnya blong. Si sopir gagal menghentikan laju kendaraannya di jalan yang menurun. Mau banting stir kiri, dalamnya jurang dan sungai menganga. Sedangkan jika banting stir ke kanan, akan menghajar separator jalan. Maka sopir truk itu banting stir ke kanan tepat di sebuah ruas putaran balik, persis ketika saya melintas di situ.
Sebelum semuanya gelap, saya sempat memberikan nomor kontak kantor dan keluarga kepada polisi untuk dikabari.
Ketika sadar, saya sudah berada di RS Saiful Anwar Malang. Luka yang saya alami cukup parah; Tengkorak muka remuk dan kedua tulang tangan kanan saya patah sama sekali.
Di rumah sakit, saya ditangani dokter spesialis syaraf yaitu Dr. Widodo, dengan tim medis yang terdiri 7 dokter syaraf, bedah syaraf, bedah tulang, bedah kosmetik, internist, mata, dan dokter THT.
Sebelum kecelakaan, saya sudah menderita diabetes. Jadi, saya tidak bisa langsung dioperasi untuk memperbaiki tulang-tulang tengkorak muka dan lengan. Sebab, kata dokter, kadar gula darah saya masih tinggi sehingga harus diturunkan dan distabilkan dulu.
Sepekan kemudian, pada 17 Desember 2010, akhirnya dokter memutuskan saya bisa menjalani operasi bedah tulang dan kosmetik.
Dua hari jelang operasi, istri saya berkeliling rumah sakit dan pasar di dekat situ untuk bersedekah. Dia bagikan uang kepada orang-orang tua dan para pasien di IRD yang tidak memiliki biaya untuk berobat, sambil meminta doa untuk kesembuhan saya.
Sehari jelang operasi, tulang tengkorak wajah saya difoto rontgen oleh dokter bedah plastik. Hasilnya, Subhanallah, Allahuakbar, hampir seluruh tengkorak muka saya sudah tersambung kembali dengan sendirinya! Sehingga menurut dokter, hanya diperlukan pemasangan satu pen di pipi kanan saya.
Untuk tulang lengan saya yang patah, masih tetap harus dioperasi untuk memasang pen.
Setelah kesadaran saya membaik, saya ditangani oleh dokter syaraf. Waktu diperiksa olehnya, saya tidak sanggup melakukan gerakan-gerakan sederhana seperti memegang telinga kiri dengan tangan kanan, menulis satu kalimat sederhana, membedakan bentuk-bentuk sederhana seperti bola, kubus, piramid, dan lain-lain. Bahkan, saya tidak bisa mengingat nama benda-benda di sekitar saya!
Dengan hasil pemerikasaan seperti itu, dokter syaraf menyampaikan kabar seram pada istri saya, bahwa saya akan kehilangan 50% memori ingatan saya. Dan, biasanya perlu beberapa bulan perawatan untuk memulihkannya.
Namun, baru 2 minggu menjalani rawat inap, saya sudah boleh pulang. Kondisi saya secara umum sudah baik, walau memori otak saya belum 100% pulih.
Kenyataan ini betul-betul mengherankan dokter syaraf yang menangani saya. Sebab, katanya, dia pernah memiliki pasien yang kondisinya mirip saya dan harus dirawat di RS sampai 7 bulan lamanya.
Rawat jalan di rumah, saya masih belum bisa mengingat beberapa nama benda di sekitar saya. Secara berkala, saya masih tetap harus kontrol ke dokter, terutama untuk kesehatan syaraf dan internist.
Alhamdulillah, sekitar 2 bulan di rumah, memori saya terus membaik. Dan yang luar biasa lagi, menurut dokter internist yang menangani saya, diabetes saya dinyatakan sembuh! Allahuakbar!
Untuk mengatasi sakit kepala dan pusing (vertigo), saya juga berobat dengan akupunktur (tusuk jarum). Pengobatan alternatif ini cukup efektif, sehingga rasa sakit terus berkurang.
Menjawab keheranan tim medis maupun sanak-saudara yang membesuk atas “keajaiban” kesembuhan saya, terus terang saya pun belum menemukan jawaban yang pas.
Namun setelah merenungi semuanya, jawaban atas keajaiban itu tak lain adalah sedekah. Baik yang dilakukan istri saya ketika di rumah sakit, maupun yang saya lakukan sebelum kecelakaan.
Ya, dua hari sebelum ditabrak truk, saya mengajak anak-anak penghuni Panti Asuhan Nurul Hayat Malang makan di sebuah resto fasfood dari Amerika. Sebelumnya, mereka pun pernah saya traktir makan di sebuah resto makanan Italia.
Bukan apa-apa, saya sekadar ingin memberi pengalaman mereka makan di rumah makan waralaba mancanegara. Sehingga, meskipun tinggal di asrama yatim-piatu, mereka bisa “mengimbangi” cerita pengalaman serupa teman-teman mereka dari keluarga mampu.
Duh, betapa bahagia saya menyaksikan binar bahagia di wajah mereka tatkala makan di resto tersebut. Saya yakin, itu jadi pengalaman luar biasa dalam hidup mereka.
Maka ketika saya mendapat musibah kecelakaan, doa mereka usai shalat fardhu dan tahajud terpanjatkan untuk kesembuhan saya. Begitulah yang saya dengar dari pengasuh mereka.
Sebagai tanda rasa terima kasih sekaligus syukuran, setelah lumayan sembuh saya ajak mereka makan di sebuah resto fastfood yang lain lagi. Biar lebih lengkaplah pengalaman anak-anak dhuafa tersebut.
Dari pengalaman ini, sekarang saya hampir tak berpikir panjang untuk bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Tentu, juga diiringi dengan meningkatkan amal ibadah yang lain seperti shalat fardhu tepat waktu dan berjamaah, shalat rawatib, dhuha, tahajud, taubat, hajat, puasa sunnah, dll.
Sesuai wasiat Ustadz Yusuf Mansur, bersedekah ibarat menanam bibit tetumbuhan. Agar bibit tumbuh subur dan berbuah manis, harus rajin dirawat, dipupuk, dan disirami. Pun begitu dengan sedekah, yang harus dilengkapi dengan amalan-amalan ibadah sunah.

Date of Posting: 13 April 2012
Posted By: Adinandra Wardhana

Rabu, 29 Februari 2012

FADILAH SEDEKAH



1. Menunda Kematian

Rasulullah saw bersabda:
“Sedekah dapat menolak kematian yang buruk.” (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 2)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
Pada suatu hari orang yahudi lewat dekat Rasulullah saw, lalu ia mengucapkan:
Assam ‘alayka (kematian atasmu). Rasulullah saw menjawab: ‘Alayka (atasmu). Lalu
para sahabatnya berkata: Ia mengucapkan salam atasmu dengan ucapan kematian, ia
berkata: kematian atasmu. Nabi saw bersabda: “Demikian juga jawabanku.” Kemudian
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya orang yahudi ini tengkuknya akan digigit
oleh binatang yang hitam (ular dan kalajengking) dan mematikannya. Kemudian orang
yahudi itu pergi mencari kayu bakar lalu ia membawa kayu bakar yang banyak.
Rasulullah saw belum meninggalkan tempat itu yahudi tersebut lewat lagi (belum
mati). Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya: “Letakkan kayu bakarmu.” Ternyata
di dalam kayu bakar itu ada binatang hitam seperti yang dinyatakan oleh beliau.
Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Wahai yahudi, amal apa yang kamu lakukan? Ia
menjawab: Aku tidak punya kerjaan kecuali mencari kayu bakar seperti yang aku
bawa ini, dan aku membawa dua potong roti, lalu aku makan yang satu potong dan
satu potong yang lain aku sedekahkan pada orang miskin. Maka Rasulullah saw
bersabda: “Dengan sedekah itu Allah menyelamatkan dia.” Selanjutnya beliau
bersabda: “Sedekah dapat menyelamatkan manusia dari kematian yang buruk.” (Al-
Wasail 6: 267, hadis ke 4)

2. Bertambahnya rezeki
Rasulullah saw bersabda:
“Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang
banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian.” (Al-Wasail
6: 255, hadis ke 11)

3. Terhindar bahaya
Rasulullah saw bersabda:
“Mulai pagi harimu dengan sedekah, barangsiapa yang memulai pagi harinya dengan
sedekah ia tidak akan terkena sasaran bala.” (Al-Wasail 6: 257, hadis ke 15)

4. Kesempurnaan Keimanan
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Tidaklah sempurna keimanan seorang hamba sehingga ia melakukan empat hal:
Berakhlak baik, bersikap dermawan, menahan karunia dari ucapan, dan mengeluarkan
karunia dari hartanya.” (Al-Wasail 6: 259, hadis ke 21)

5. Pahala perang uhud

Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata bahwa Allah Swt berfirman:
“Segala sesuatu Aku wakilkan pada orang selain-Ku untuk menggenggamnya kecuali
sedekah, Aku sendiri dengan tangan-Ku yang mengambilnya, sekalipun seseorang
bersedekah dengan satu biji korma atau sebelah biji korma. Kemudian Aku
menambahkan baginya sebagaimana ia menambahkan sebelum meninggalkan. Kemudian saat
ia datang pada hari kiamat ia mendapat pahala seperti pahala perang Uhud bahkan
lebih besar dari pahala perang Uhud.” (Al-Wasail 6: 265, hadis ke 7)

6. Penjagaan Allah Sepanjang Hari
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Awali pagi harimu dengan sedekah, gemarlah bersedekah. Tidak ada seorang mukmin
pun yang bersedekah karena mengharapkan apa yang ada di sisi Allah untuk menolak
keburukan yang akan turun dari langi ke bumi pada hari itu, kecuali Allah
menjaganya dari keburukan apa yang akan turun dari langit ke bumi pada hari itu.”
(Al-Wasail 6: 267, hadis ke 3)

7. Merubah Takdir
Rasulullah saw berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib (sa):
“Wahai Ali, sedekah itu dapat menolak takdir mubram (yang telah ditetapkan). Wahai
Ali, silaturahim dapat menambah umur. Wahai Ali, tidak ada sedekah ketika keluarga
dekatnya membutuhkan. Wahai Ali, tidak ada kebaikan dalam ucapan kecuali disertai
perbuatan, dan tidak ada sedekah kecuali dengan niat (karena Allah).” (Al-Wasail
6: 267, hadis ke 4)

8. Penolak Hari Nahas
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Antara aku dan seseorang punya perhitungan tentang bumi. Orang itu ahli nujum, ia
sengaja keluar rumah untuk suatu urusan pada saat “Al-Su’ud” (bulan berada di
manazil Al-Su’ud), dan aku juga keluar rumah pada hari nahas. Lalu kami
menghitungnya, lalu keluarlah untukku dua perhitungan yang baik. Kemudian orang
itu memukulkan tangan kanannya pada tangan kirinya, kemudian berkata: Aku belum
pernah sama sekali melihat hari seperti hari ini. Aku berkata: Celaka hari yang
lain dan hari apa itu? Ia berkata: Aku ahli nujum, aku datang padamu pada hari
nahas, aku keluar rumah pada saat Al-Su’ud, kemudian kami menghitung, lalu
keluarlah untuk Anda dua perhitungan yang baik. Ketika itulah aku berkata
kepadanya: “Tidakkah aku pernah menyampaikan suatu hadis yang disampaikan padaku
oleh ayahku? Yaitu Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang ingin diselamatkan
oleh Allah dari hari nahas, maka hendak mengawali harinya dengan sedekah, niscaya
Allah menyelamatkannya dari hari nahas itu. Barangsiapa yang ingin diselamatkan
oleh Allah dari malam nahas, maka hendaknya mengawali malamnya dengan sedekah
niscaya ia diselamatkan dari malam nahas itu. Kemudian aku berkata: “Sesungguhnya
aku mengawali keluar rumah dengan sedekah; ini lebih baik bagimu daripada ilmu
nujum.” (Al-Wasail 6: 273, hadis ke 1)


9. Rahasia Sedekah di Malam hari dan Siang hari
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Sesungguhnya sedekah di malam hari dapat memadamkan murka Allah, menghapus dosa
besar dan mempermudah perhitungan amal; sedekah di siang hari dapat menumbuhkan
harta dan menambah umur.” (Al-Wasail 6: 273, hadis ke 2)


10.Rahasia sedekah: Ali bin Abi Thalib
Imam Ali bin Abi Thalib (sa):
“Sesungguhnya tawassul yang paling utama adalah bertawasul dengan keimanan kepada
Allah …, dengan silaturrahim karena hal ini dapat menumbuhkan harta dan menambah
umur; dengan sedekah yang tersembunyi karena hal ini dapat menghapuskan kesalahan
dan memadamkan murkan Allah Azza wa Jalla; dengan amal-amal yang ma’ruf
(kebajikan) karena hal ini dapat menolak kematian yang buruk dan menjaga dari
pertarungan kehinaan…” (Al-Wasail 6: 275, hadis ke 4)


11.Sedekah itu mensucikan jiwa
Allah Ta`ala berfirman:
”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka , dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka , dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya dia kamu itu (
menjadi ) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah (menjadi) ketentraman jiwa bagi
mereka, Dan Allah Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS At-Taubah: 103)